Cahaya Ma’rifatullah

Cahaya Ma’rifatullah

Hadits Sufistik – Syeikh Ahmad Ar-Rifa’y
Rasulullah SAW bersabda: “Telah merasakan nikmatnya iman, orang yang rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad saw sebagai Nabi.”

Rasa tersebut adalah faktor yang dibangkitkan oleh ridlo (kerelaan), yaitu Ma’rifat kepada Allah. Dan ma’rifat itu adalah cahaya yang ditempatkan oleh Allah dalam qalbu hamba yang dicintai-Nya. Tak ada yang lebih besar dan lebih agung ketimbang cahaya itu. Sedangkan hakikat ma’rifat itu adalah hidupnya hati dengan Yang Maha Hidup, sebagaimana firman-Nya:

Adakah orang yang keadaan mati, maka Kami hidupkan dia?”
“Agar menjadi peringatan bagi orang yang hidup (hatinya)”
“Maka Kami hidupkan ia, dengan kehidupan yang baik.”
“Penuhilah panggilan bagi Allah dan bagi Rasul, apabila Dia memanggil kalian atas apa yang Allah menghidupkan kalian.”
Siapa yang mati nafsunya, maka dunianya jauh darinya. Siapa yang mati hatinya, akan jauh dari Tuhannya.

Ibnu Sammak pernah ditanya, “Kapan seorang hamba dikenal bahwa dirinya telah sampai ke hakikat ma’rifat?” Beliau menjawab, manakala seorang hamba melihat Allah dengan mata renungan hatinya, fana dari segala selain Diri-Nya.”

Dikatakan, “Ma’rifat berarti sirnanya pandangan melihat selain Allah, dimana segala selain Allah Ta’ala begitu kecil bahkan dibanding biji bayam sekali pun. “Katakan, Allah, lalu tinggalkan mereka….”

Siapa yang memandang Allah ia tidak akan memandang dunia, tidak pula akhirat. Cahaya matahari qalbu orang yang ‘arif itu lebih cemerlang ketimbang cahaya matahari dunia, dan lebih terang lagi di awal muncahnya cahaya.

Matahari orang yang mencintaimu telah terbit di malam hari

Lalu cahayanya memendar, tak pernah surup

Matahari di siang dunia telah surup

Sedang matahari qalbu tak pernah sirna

Dzun Nuun al-Mishry ra menegaskan, “Tampaknya Allah swt, di dalam hakikat jiwa melalui limpahan-limpahan anugerah, sebagaimana tampaknya matahari di muka bumi melalui cemerlangnya cahaya-cahaya. Hendaknya kalian menjernihkan qalbu, karena disanalah cermin pandangan-Nya, dan tempat rahasia-Nya. Karena siapa yang mengenal Allah ia tak bakal memilih selain Allah sebagai Sang Kekasih.”

Dalam suatu hadits dijelaskan:”Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluknya dalam kegelapan. Kemudian Allah meletakkan cahaya-Nya pada mereka. Siapa yang terkena cahaya itu hari ini, maka ia dapatkan petunjuk, dan siapa yang tidak terkena cahaya itu ia tersesat.”

Cahaya itu adalah pancaran yang muncul dari limpahan anugerah, kemudian jatuh di hati, lalu menerangi kedalaman hati, hingga cahayanya menyingkap tirai alam Jabarut, dan alam Jabarut tak bisa menutupi Allah, begitu juga alam Malakut, hingga si hamba dalam seluruh tindakan dan ucapannya, gerakan dan hasratnya, hidup dan matinya tertuju pada Sang Cahaya. Sebagaimana dalam Surat An-Nuur 35.

Jika engkau tak bersamaku
Maka kenangan darimu bersamaku
Melihatmu, walau sirna dari mataku

Ma’rifatullah
Yahya bin Mu’adz ra mengatakan, “Ma’rifat adalah kedekatan hati kepada Yang Maha Dekat, dan ruh telah mengintai Sang Kekasih, dan menyatu total dengan Yang Maha Diraja Nan Maha Mengijabah.”

Dzun Nuun mengatakan, “Ma’rifat adalah mensunyikan hakikat rahasia diri dari segala hasrat, dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan manusiawi, serta tenteramnya hati kepada Allah tanpa sedikit pun berhubungan dengan yang lain.”

Sebagian menegaskan, “Perilakunya adalah kegilaan, romannya adalah ketololan, dan makna tersembunyinya adalah kebimbangan.”

Seorang arif akan senantiasa disibukkan oleh ilmunya Allah, jauh dari logika sebab akibat. Manakala ia manusia lain memandangnya selalu menganggapnya tolol, padahal sepanjang hidupnya ia berada dalam lembang keagungan-Nya, bahkan ia dianggap setengah gila oleh massa. Jika mereka memandangnya, massa menggilakannya. Padahal secara total ia berada dalam lembah kefanaan cinta atas Kemahaagungan-Nya, tersibukkan bersama-Nya, jauh dari selain Diri-Nya. Manakala mereka melihatnya, mereka mengusirnya.

Tak satu pun manusia yang bias menceritakan pengalaman ma’rifatnya kepada Allah Ta’ala, karena ma’rifat itu tampak dariNya, kembali kepada-Nya. Sang arif berada di bawah pandangan-Nya, abadi dalam ham[paran Ilahi tanpa jiwa dan tanpa hubungan dengan lain-Nya. Ia mati, tapi hidup. Hidup tapi mati. Ia tertirai tapi tersingkap. Tersingkap tapi tertirai. Ia pasrah total dalam pintu perintah-Nya, bimbang melayang di medan kebajikan-Nya, dan bersetapak di bawah keindahan tirai-Nya, fana’ di bawah kekuasan hukum-Nya, abadi di atas hamparan kelembutan-Nya.

Sang arif telah fana di bawah keabadian Kemahaan-Nya dari segala daya dan upaya, lalu ia abadi dalam Daya dan Kekuatan-Nya. Mereka terhanguskan dari eksistensinya, sebab akibatnya, dibawah kekuasaan Ketuhanan-Nya. Ia menjadi penguasa bersama-Nya di bawah kerajaan-Nya, kefakirannya karena bersama-Nya, kecukupannya karena bersama-Nya, kemudliaannya karena bersama-Nya, hinanya karena bersama-Nya.

—(ooo)—

sumber : sufinews.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: